Semar sebagai contoh ‘lurah’daerah


Oleh : Abdul Rokhim

Tokoh semar merupakan tokoh yang tidak lagi asing di telinga kita. Nama asli semar adalah Kyai Lurah Semar Badranaya. Karakter Semar ada dalam setiap cerita-cerita pewayangan dan tokoh ini dikenal dalam cerita pewayangan yang sudah mengalami proses asimilasi budaya antara budaya lokal dengan cerita aslinya. Tokoh Semar banyak menghiasi cerita pewayangan dan termasuk dalam tokoh-tokoh punakawan selain gareng, petruk dan bagong. Semar mempunyai posisi yang menarik dalam cerita-cerita pewayangan jawa karena Semar adalah seorang punggawa pemerintah. Peran dan posisi Semar juga tidak bisa dianggap enteng dalam cerita-cerita pewayangan. Tokoh semar bisa disejajarkan dengan prabu Kresna dalam hal keluhurannya. Semar mempunyai sifat yang jujur, ramah, sopan, humoris dan bertanggung jawab walaupun secara fisik Semar bukanlah tokoh yang dicitrakan sebagai tokoh yang tampan, berwibawa, ataupun hal-hal yang baik secara fisik lainnya.

Kondisi yang berbeda bisa kita lihat saat kita melihat para ‘lurah’ daerah kita sekarang. Hampir sebagian kepala daerah kita mempunyai karakter yang sangat berlainan dengan karakter Semar. Walaupun secara fisik para pemimpin itu baik –tampan, berwibawa, kaya, dsb-, tetapi karakternya masih dipertanyakan. Kondisi ini diperparah dengan budaya politik yang hadir dalam masyarakat Indonesia seperti sekarang. Untuk menjadi kepala daerah, seorang calon harus

mengeluarkan dana yang tidak sedikit dalam proses kampanyenya. Budaya politik yang berkembang seperti sekarang ini mempersempit ruang gerak masyarakat tingkat bawah dalam partisipasinya terhadap pencalonan mereka menjadi pemimpin daerah.

Seorang pemimpin, sedikit banyak harus bisa mencontoh Semar sebagai abdi negara. Bukan sifat-sifat fisik yang diunggulkan, melainkan sifat-sifat dari pribadi seorang calon pemimpin yang menjadi pertimbangan. Tetapi untuk bisa melihat sifat dan karakter seorang calon juga bukan masalah yang gampang untuk dilihat, karena hal tersebut sangat bersifat abstrak dan tidak bisa dilihat secara kasat mata. Ditambah sebagian masyarakat yang menjadi pemilih tidak tahu menahu kehidupan pribadi yang dijalani oleh calon pemimpin. Akhirnya masyarakat hanya melihat aspek-aspek yang bisa dilihat secara kasat mata, semisal wajah, kewibawaan, kekayaan, dsb, padahal, aspek-aspek tersebut bukan menjadi esensi dasar bagi seorang pemimpin.

Sebagai salah seorang punakawan, Semar merupakan simbolisasi dari seorang yang arif dan bijak. Semar juga merupakan pengasuh dan penasehat kaum ksatria dalam cerita mahabarata dan ramayana. Seorang ‘lurah’ harus bisa mengasuh rakyatnya sama seperti mengasuh anak sendiri. Selain memimpin, kepala daerah juga harus bisa mengasuh rakyatnya dalam ‘peperangan’ antara baik dan buruk, seperti Semar dalam mahabarata dan ramayana. Kondisi ini sangat berlainan dengan potret kepala daerah yang ada sekarang. Bukannya menjadi pengasuh, melainkan minta diasuh oleh rakyatnya. Kepala daerah adalah seorang pengasuh rakyat, minimal bertanggung jawab dari wilayah yang dia pimpin.

Semar pada dasarnya adalah perpaduan antara rakyat kecil dan dewa kahyangan. Dalam cerita pewayangan, peperangan antara yang baik dan buruk dimenangkan oleh golongan baik (kesatria) dengan asuhan semar. Walaupun pada dasarnya cerita pewayangan ini hanya fiksi dan simbolisasi, kita bisa menjadikan cerita ini sebagai panduan kita dalam memerintah ataupun memilih calon pengabdi rakyat agar peperangan yang kita jalani antara baik dan buruk didunia ini bisa dimenangkan oleh jalan kebaikan. Jika seorang kepala daerah mempraktekkan makna filosofis dalam sosok Lurah Semar, bisa dilihat bahwa rakyat akan menghormatinya sama seperti penghormatan terhadap dewa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: