Perdebatan Awal dalam Teori Hubungan Internasional


Oleh : Abdul Rokhim

Pengantar

Pada awal perkembangan kajian studi hubungan internasional terjadi perdebatan teori yang dari waktu ke waktu semakin meningkatkan kajian-kajian tentang studi hubungan internasional yang pada dasarnya merupakan ilmu yang masih sangat muda usianya dalam bidang kajian akademik. Jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain yang telah berkembang lebih dahulu, ilmu hubungan internasional termasuk ilmu yang belum lama berkembang tetapi jika mengartikan hubungan internasional secara kasar maka hubungan internasional sudah terjadi pada jaman dahulu. Awal perkembangan studi tentang ilmu hubungan internasional diawali pada abad ke 17. Titik akhir era pertengahan yang bersejarah dan titik awal system internasional modern, berbicara secara umum, biasanya dikenal dengan Perang Tiga Puluh Tahun(1618-1648) dan Perdamaian Westphalia yang mengakhiri perang tersebut[1]. Para akademisi sepakat bahwa awal perkembangan Hubungan Internasional modern dimulai pada era pertengahan karena pada masa setelah perjanjian Westhphalia ditandatangani, berbagai Negara-Bangsa (Nation-State) mulai bermunculan.

Pada awal perkembangan studi tentang Hubungan Internasional, terjadi perdebatan antara teori-teori idealis dengan realis. Teori idealis berkembang sebelum tahun 1930-an dan

teori realis berkembang antara 1930-an sampai 1950-an. Jika memandang perkembangan teori-teori ini dari sudut pandang sejarah maka pada waktu itu Eropa masih dalam suasana Perang Dunia I dan II. Dan peranglah yang menjadi pokok permasalahan dari awal perkembangan HI.

Teori Idealis

Banyak ilmuwan HI yang mengatakan bahwa teori ini sebagai idealis utopian/liberalis utopian. Pada dasarnya teori ini didasarkan pada legalistic-moralistik yang memandang manusia sebagai makhluk yang cinta damai. Pada tahun 1920-an banyak teori-teori HI yang berdasar pada teori ini karena masih dalam bayangan Perang Dunia I yang memandang perang sebagai kecelakaan dan dosa. Perang dianggap kecelakaan karena tidak adanya organisasi internasional yang dapat mencegahnya. Perang dianggap dosa karena mengungkap sifat jelek manusia yang seharusnya cinta damai[2]. Kaum Idealis mengangap perang sebagai suatu keadaan yang tidak seharusnya terjadi. Manusia pada dasarnya baik dan membenci perang.

Menurut kaum idealis cara menghindari perang adalah dengan membentuk organisasi internasional yang dapat menciptakan kedamaian dan mampu meredam perang. Para ilmuan idealis menganggap bahwa dengan mereformasi system internasional dan struktur-struktur domestik negara-negara otokratis dapat mencegah terjadinya perang[3]. Presiden Wilson dan orang-orang idealis lainnya menginginkan tatanan dunia yang didasarkan atas demokrasi yang dijaga oleh organisasi internasional. Dia dianugrahi penghargaan Nobel Perdamaian karena mengusulkan adanya suatu organisasi internasional yang dapat mengatur negara-negara dalam setiap tindakannya. Pada tahun 1920 lahirlah Liga Bangsa-Bangsa yang sebelumnya diusulkan Presiden Wilson melalui Konferensi Perdamaian Paris 1919.

Presiden Wilson menginginkan diakhirinya diplomasi rahasia dan semua kesepakatan diketahui secara luas agar setiap negara tidak saling curiga. Harus ada kebebasan navigasi di laut, dan hambatan-hambatan bagi perdagangan bebas harus dihilangkan. Persenjatan disemua negara harus dikurangi sampai pada titik paling rendah untuk melakukan konflik. Klaim kolonial dan wilayah harus diselesaikan dengan mengacu pada prinsip hak dan menentukan nasibnya sendiri dari masyarakat wilayah tersebut[4].

Teori idealis ini dianggap sebagai teori yang besar pada tahun 1920-an, tetapi pada masa setelah itu teori ini menjadi surut karena munculnya negara Nazi dan Fasis yang cenderung otokratis. Masalah-masalah kembali muncul saat Liga Bangsa-Bangsa yang diharapkan dapat mencegah terjadinya perang tetapi tidak bisa berbuat apa-apa saat beberapa negara anggotanya malah menginvasi negara lain. Hal ini karena di dalam tubuh Liga Bangsa-Bangsa tidak ada negara yang sungguh-sungguh serius melaksanakan aturan-aturan dari LBB. Amerika Serikat yang mengusulkan didirikannya LBB malah tidak masuk menjadi anggota LBB karena kebanyakan anggota Senat menolaknya. Politik Luar Negeri Amerika Serikat yang masih bersifat isolanisme menyulitkan Amerika Serikat dalam menangani masalah-masalah Eropa yang pada waktu itu sedang kacau-kacaunya.

Setelah tahun 1930-an teori ini redup sama sekali dengan munculnya Perang Dunia II yang lebih mengerikan daripada Perang Dunia I. Dan hal itu tidak bisa dijelaskan oleh ilmuan-ilmuan idealis. Setelah teori idealis, muncul teori baru yaitu teori realis dan teori ini lebih dianggap berperan setelah masa teori idealis.

Teori Realis

Pada tahun 1930-an, Negara-negara nazi dan fasis memulai politik ekspansinya ke negara-negara tetangga. Dunia masuk kedalam Perang Dunia II yang menelan lebih dari 50 juta jiwa melayang. Dengan adanya perang ini, runtuhlah teori idealis yang mencari perdamaian melalui norma-norma dan hokum yang diaplikasikan melalui lembaga-lembaga supranasional. Setelah Perang Dunia II, sarjana-sarjana generasi baru yang lebih pragmatis muncul untuk bertekad tidak lagi menyerah atau mengalah pada teori-teori idealis yang sebelumnya menguasai teori-teori dalam Hubungan Internasional. Aliran pemikiran baru ini, menamakan dirinya “realis” dan menolak teori-teori idealis yang mendasarkan pada moral[5].

Realisme, sebagai tanggapan terhadap liberalisme, pada intinya menyangkal bahwa negara-negara berusaha untuk bekerja sama. Para realis awal seperti E.H. Carr, Daniel Bernhard, dan Hans Morgenthau berargumen bahwa, untuk maksud meningkatkan keamanan mereka, negara-negara adalah aktor-aktor rasional yang berusaha mencari kekuasaan dan tertarik kepada kepentingan diri sendiri (self-interested). Setiap kerja sama antara negara-negara dijelaskan sebagai benar-benar insidental. Para realis melihat Perang Dunia II sebagai pembuktian terhadap teori mereka.

Bagi Morgenthau, dan para pemikir realis lainnya, manusia merupakan makhluk yang jahat dan hanya mementingkan diri sendiri dan itu juga berlaku dalam hubungan internasional. Konsep yang ditawarkan kaum idealis yang mengatakan manusia itu baik, ditolak mentah-mentah dengan mengatakan manusia itu jahat dan hanya mengejar kekuasaan. Konsep ini dapat dilihat pada tahun 1930-an saat Jerman, Jepang dan Italia melakukan ekspansi besar-besaran ke negara tetangganya, selain itu juga Nazi-Jerman melakukan genocide besar-besaran terhadap golongan umat Yahudi.

Yang menjadi pandangan lain dari para pemikir realis adalah sifat dari hubungan internasional itu sendiri. “Politik Internasional, seperti semua politik, adalah perjuangan demi kekuasaan. Apapun tujuan akhir politik internasional, kekuasaan merupakan tujuan yang selalu didahulukan”(Morgenthau, 1960). Hubungan internasional adalah perjuangan untuk kekuasaan dan untuk bertahan hidup. Dan ini dapat dilihat dari Perang Dunia II, anatara pihak yang berperang. Keduanya saling saling merebutkan kekuasaan dan bertahan hidup. Dan sifat ini juga ditemui dalam diri seorang manusia. Kaum realis menolak pendapat kaum idealis yang mengatakan bahwa untuk mencegah perang harus ada organisasi social yang dapat mencegahnya. Hal ini karena mereka melihat kenyataan yang terjadi pada PD II dan peran LBB yang gagal. Solusi yang ditawarkan kaum realis adalah pembentukan kekuatan penyeimbang dan penggunaan kekuatan tersebut secara cermat untuk menyiapkan pertahanan nasional dan menolak agresor internasional[6].

Berikut ini adalah pandangan-pandangan kaum realis dalam melihat negara dalam hubungan intenasional.

  1. Negara selalu mempunyai kepentingan yang berbenturan.
  2. Perbedaan kepentingan akan menimbulkan perang atau konflik.
  3. Power yang dimiliki oleh suatu negara sangat mempengaruhi penyelesaian konflik, dan menentukan  pengaruhnya atas negara lain.
  4. Politik didefinisikan sebagai memperluas power, mempertahankan, dan menunjukkan power.
  5. Setiap negara dianjurkan untuk membangun kekuatan, beraliansi dengan negara lain, dan memecah belah kekuatan negara lain ( devide and rule).
  6. Perdamaian akan tercapai jika telah terwujud Balance of Power atau Keseimbangan Kekuatan yaitu keadaan ketika tidak ada satu kekuatan yang mendominasi sistem internasional.
  7. Setiap negara akan selalu bergerak dan berbuat berdasarkan kepentingan nasionalnya (national interest)[7].

Kesimpulan

Perkembangan awal teori-teori Hubungan Internasional pada awalnya diwarnai dengan perdebatan-perdebatan antara idealis dengan realis. Sebelum tahun 1920-an, teori-teori idealis lebih mendominasi kajian akademik tentang studi hubungan internasional. Tetapi dengan adanya Perang Dunia II dan gagalnya Liga Bangsa-Bangsa menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi terutama di Eropa pada waktu itu menggeser posisi idealis dan digantikan oleh realis yang sangat berlawanan dengan idealis. Selama beberapa dekade setelahnya, teori-teori realis tetap bertahan dalam menjelaskan fenomena-fenomena hubungan internasional.

Menurut saya sebagai penulis, teori realis lebih menyakinkan walaupun dalam beberapa hal mengatakan, terutama manusia, memandang manusia sebagai jahat. Selain itu realis lebih dapat menjelaskan tentang hubungan internasional lebih komprehensif daripada idealis. Teori-teori yang dikeluarkan oleh ahli-ahli idealis lebih hanya memandang apa yang seharusnya terjadi tetapi tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan disinilah letak kelemahan teori-teori idealis. Walaupun sebenarnya teori idealis lebih meletakkan pondasi-pondasi legalistik-moralistik. Dan hal serupa juga berlaku sebaliknya, realis tidak menempatkan pondasi moral pada teorinya dan bahkan lebih mendukung peningkatan senjata yang dibarengi oleh negara lain (balance of power).

Tetapi sebagai sebuah teori yang harus melalui proses dialektika, realis tetap digeser oleh teori-teori lain yang lebih bisa menjelaskan fenomena–fenomena dalam hubungan internasional. Dan hal ini terjadi beberapa dekade setelah masa perdebatan antara teori  idealis dan realis.

[1] Robert Jackson dan George Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Pustaka Pelajar,2005, hal. 21.

[2] Lihat Coulumbis, A. Theodore -James H. Wolfe, Pengantar Hubungan Internasinonal Keadilan dan Power, Putra A. Bardin cv, 1999, hal. 22.

[3] Lihat Jackson, Robert dan George Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Pustaka Pelajar,2005,     hal. 48.

[4] Ibid., hal. 49.

[5] Lihat Coulumbis, A. Theodore -James H. Wolfe, Pengantar Hubungan Internasinonal Keadilan dan Power, Putra A. Bardin cv, 1999, hal. 22.

[6] Lihat Jackson, Robert dan George Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Pustaka Pelajar,2005,     hal. 48.

[7] http://www.smutiah.staff.ugm.ac.idfileRPKPS%20PIHI3.doc

REFERENSI

Buku Bacaan

Jackson, Robert dan George Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Pustaka Pelajar,2005.

Coulumbis, A. Theodore -James H. Wolfe, Pengantar Hubungan Internasinonal Keadilan dan Power, Putra A. Bardin cv, 1999.

Website

http://ukhtyfillah.blogspot.com/2008/03/hubungan-internasional.html

http://www.smutiah.ugm.ac.id/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: