Memaknai Kembali Arti Hujan


Oleh : Abdul Rokhim

Musim hujan telah tiba. Dalam waktu normal, musim hujan datang pada bulan September-oktober. Bagi sebagian orang, musim hujan menandakan pertanda tersendiri. Didaerah pedesaan yang sebagian rakyatnya masih bekerja sebagai petani, musim hujan menandakan kesuburan yang disertai dengan datangnya musim panen bagi sebagian besar petani. Hujan, bagi seorang petani, berarti sebuah berkah yang bisa menyelamatkan hidup mereka dari kelaparan. Mereka bisa memulai lagi bercocok tanam yang merupakan sebuah pekerjaan yang dilakukan selama musim tanam tiba. Lingkaran kehidupan mereka tidak bisa dilepaskan dari hujan sebagai sebuah penanda musim tanam. Hal ini dilakukan secara terus menerus dari musim ke musim.

Kondisi yang kita lihat seperti diatas akan jauh berbeda dari masyarakat perkotaan. Kebanyakan masyarakat perkotaan dalam memandang datangnya musim hujan tidak seperti cara pandang masyarkat pedesaan pada umumnya. Mereka tidak terlalu memikirkan makna setetes air yang turun pada musim hujan. Malah sebagian masyarakat perkotaan memandang dengan datangnya hujan, maka

datang pula masalah bagi mereka. Kebanjiran, merupakan contoh kecil dari masalah yang timbul dari datangnya musim hujan. Dan beragam contoh lain yang membuat hujan tidak mempunyai makna apapun bagi mereka, walaupun tidak semua masyarakat perkotaan berpikiran seperti itu.

Perbedaan cara pikir seperti ini lahir dari corak sosio-kultur dimana masing-masing masyarakat hidup. Masyarakat perkotaan rata-rata bermata pencaharian bukan sebagai petani. Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan kehidupan masyarakat pedesaan. Hampir sebagian besar masyarakat pedesaan bermata pencaharian sebagai petani. Hujan diartikan sebagai sebuah salah satu titik dari lingkaran kehidupan yang tidak bisa dilepaskan dari mereka.

Kondisi yang sama tidak kita lihat pada beberapa waktu yang lalu dimana pertumbuhan masyarakat perkotaan belum terlalu berkembang seperti sekarang. Pada awal perkembangan masyarakat, kota tidak ada bedanya dengan desa. Tetapi, melalui proses gerak sejarah terus menerus, desa lama kelamaan berkembang menjadi perkotaan. Sebagian desa yang telah berkembang menjadi perkotaann jauh meninggalkan perkembangan di desa-desa yang lain. Kondisi seperti ini hanya terjadi pada daerah-daerah tertentu saja. Kondisi sosio-kultur yang semula menjadi cirri khas pedesaan menjadi suatu bentuk nilai baru, yaitu masyarakat perkotaan.

Perubahan gerak sejarah ini menimbulkan perubahan pada tatanan social yang ada pada masyarakat. Desa yang merupakan cirri khas masyarakat tradisionalis, sedangkan kota dengan cirri khas masyarakat modern. Dikotomi ini terjadi karena cara pandang masyarakat terhadap dunia berubah. Perbedaan yang mencolok terlihat dari corak ekonomi yang berkembang didesa dan kota. Masyarakat pedesaan yang sebagian besar penduduknya adalah dibidang agraria, melihat hujan sebagai sebuah berkah yang merupakan mata rantai kelangsungan hidup mereka. Sedangkan masyarakat perkotaan, tidak melihat itu sebagai sebuah berkah. Masyarakat kota lebih melihat itu hanya sebagai proses hokum alam yang semestinya terjadi.

Perbedaan cara pandang terhadap dunia mempengaruhi gerak berpikir dimana masyarakat hidup. Masyarakat pedesaan lebih condong kearah mistisisme. Mereka mengkaitkan segala sesuatu dengan hal-hal yang sifatnya metafisik. Hal ini bisa dilihat dari cara pandang masyarakatnya yang non-materialistik dan tradisional. Kondisi ini sangat berlawanan dengan yang ada di perkotaan dimana masyarakatnya kebanyakan mengenyam pendidikan dengan berbasis empirisme-materialistik. Mereka cenderung mengkaitkan segala hal dengan alam dan ilmu pengetahuan.

Gerak masyarakat yang terjadi antara keduanya bukan berarti tidak menimbulkan dampak apapun, malah sebaliknya. Interaksi antara suatu masyarakat dengan masyarakat yang lain yang mempunyai cara pandang dunianya berbeda, akan menimbulkan reaksi. Reaksi yang ditimbulkannya pun berbeda. Tetapi yang patut kita catat bahwa gerak sejarah yang terjadi, akan mempengaruhi cara pandang kita terhadap dunia. Satu contoh kecil dari ini semua adalah perbedaan makna saat kita melihat hujan yang ada disekitar kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: